off base, travel April 3, 2017 aldo 2 comments

Indonesian survival guide in Dublin

Dublin sebagai ibukota dari Ireland punya kota yang bersih dan cantik, cuaca yang melulu basah dan dingin, tapi orang-orang yang ramah walaupun terkadang aksen Irish-nya sulit dimengerti. Dibawah ada beberapa hal yang sudah saya pelajari selama lebih dari setengah tahun tinggal di Dublin, semoga membantu 😀

Airport

Untuk menuju ke city center dari airport, kamu bisa menggunakan banyak bus, tapi rekan-rekan saya sih menyarankan Aircoach atau taksi saja. Karena biasanya setelah penerbangan yang panjang dan melelahkan enaknya dilanjutkan dengan kendaraan yang nyaman. Ongkos taksi ke city center kira-kira 30-40 Euro, sedangkan Aircoach sekitar 7 Euro 😀 . Selain itu taksi dan aircoach, ada Dublin Bus yang lebih murah lagi, namun mungkin harus tahu jadwal dan trayeknya.

Dari Airport ke city center, yang paling masuk akal adalah menggunakan Aircoach, namun apabila travelling dengan banyak orang, taksi juga cukup lumayan.

Transport: Dublin Bus, LUAS, DART

Di Dublin sendiri, ada beberapa transportasi publik. Yang memiliki jangkauan paling luas tentu saja Dublin Bus. Harga tiketnya 2 – 3,3 Euro untuk orang dewasa. Waktu tunggu antar tiap Dublin Bus di pusat kota tidak terlalu lama, di bawah 10 menit, tapi semakin jauh dari pusat kota waktu tunggunya bisa sampai satu jam. Bila memang berencana menggunakan Dublin Bus, sebaiknya tahu timetables dan ongkos-nya, enaknya lagi, busnya bisa dipantau secara realtime.

Selain Dublin Bus ada LUAS. Trem yang mengcover arah utara-selatan (green line) dan timur-barat (red line) Dublin. Harga tiketnya ga jauh beda dengan Dublin Bus, tapi headway-nya jauh lebih pasti karena tidak terjebak macet, dan waktu tempuhnya juga lebih baik dari Dublin Bus. Tentu saja tempat yang di jangkau tidak sebanyak Dublin Bus.

DART itu kalo di Indonesia kurang lebih KRL Commuter Line, saya sendiri belum pernah pakai, tapi katanya sih harga tiketnya serupa dengan moda yang lain.

Tempat Belanja dan Makanan

Di seantaro Dublin cuma ada satu restoran Indonesia, konsepnya fine dining pulak, jadilah saya tidak pernah menjejakan kaki disana. Namun, setelah tinggal beberapa saat disini, mau tidak mau pasti kangen juga dengan makanan indonesia. Pelarian paling dekat dengan makanan Indonesia adalah makanan Asia tengah (India, Pakistan), Timur tengah, atau Turki (yeay Kebab). Makanan asli Irlandia buat selera saya kurang ‘berbumbu’ dan cenderung hambar.

Untungnya di Dublin banyak toko yang menjual bahan makanan khas Asia (Asian Market). Jadi kalo sekedar mencari bumbu dapur atau tahu-tempe tidak masalah, paling harus mulai belajar masak sendiri. Di city center ada Oriental Emporium (30/32 Abbey Street Upper), yang saya rasa paling lengkap. Tentu saja banyak asian market lain yang cuma se-google away.

Selain asian market, tempat belanja grocery yang cukup ekonomis harganya, antara lain LIDL, Tesco, Aldi, Supervalue punya harga yang mirip-mirip, tapi kayaknya LIDL yang paling murah di-antara semuanya. Kalo belanja pakaian ada Penny’s (alias Primark) dan TK Maxx. Banyak tempat lain sih, tapi yang paling waras harganya yah itu tadi.

SIM card

Beberapa operator yang lumayan kondang disini meteor (1 kali sebulan gratis nonton kalo beli paket tertentu), Three, Vodafone, Tesco, dan Lyca. Dari semuanya, yang paling murah adalah Lyca 5 Euro untuk 5 GB sebulan, sayangnya kanal yang dipakai cuma 3G.

Saran saya belilah sim card di Airport, atau di city center, karena walaupun Dublin lumayan tercover wifi, banyak yang masih belum ada wifinya.

Wifi

Untuk yang baru saja tiba di Negara lain, tentu saja harus merasakan kerasnya hidup tanpa internet, untungnya Dublin punya cukup banyak area yang tercover wifi, paling ga itu yang saya rasakan, dibandingkan Paris atau Amsterdam, disana cari wifi kayak cari jodoh.

Mendarat di Dublin Airport ada wifi gratis, setelah itu menuju city center ada Aircoach dan Dublin Bus yang dilengkapi wifi. Di wilayah city center ada beberapa mall yang dilengkapi wifi, dan ada Trinity College yang ada wifi gratisnya.

Tapi jangan bayangkan bahwa seluruh kota terjangkau wifi, saran saya sebisa mungkin setelah mendarat beli SIM card di Airport atau city center.

Cuaca

Mirip dengan wilayah temperate lain Dublin punya empat musim, dengan sedikit perbedaan: rainy autumn, rainy winter, rainy spring, and rainy summer. Iya! disini hujan sering banget, ga besar kayak hujan tropis, tapi sedikit-sedikit tapi lumayan sering. Selain itu angin di Dublin lumayan kenceng, jadi payung kurang efektif (angin kencang bikin air hujan datang dari berbagai arah) jadi lebih banyak yang pakai jaket tebel/waterproof daripada payung.

2 thoughts on “Indonesian survival guide in Dublin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *